Bahagia (2)
"Percayalah, kebahagiaan yang direnggut dari kebahagiaan orang lain tidak akan bertahan lama."
Paman Bunta, pada suatu masa.
Kamu tahu maksudku, kan?
Jadi begini, supaya kamu punya suatu persamaan, coba perhatikan ilustrasi berikut.
Seorang berwajah bagus, ingin punya mata yang lebih bagus. Suatu hari ia melihat seorang berwajah buruk tapi punya mata yang bagus. Kemudian seorang berwajah bagus tiba-tiba saja merebut satu-satunya hal yang bagus di wajah seorang yang buruk.
Memang, ini sebenarnya tidak bisa di bandingkan. Bagus dan buruk keduanya relatif. Aku cuma menceritakan dari sudut pandang keduanya. Apa kamu bertanya padaku mata siapa yang lebih bagus? Hmm. Aku pikir tidak keduanya. Tapi.. Hey, lihatlah dari sudut pandang mereka. Anggap saja kondisinya seperti yang mereka sampaikan. Kita lanjutkan, ya!
Kemudian mereka salit rebut mata itu, mata dari seorang berwajah buruk.
Seorang berwajah bagus cuma ingin mengambil mata itu, ia ingin punya. Tidak butuh yang lain. Cuma mata. "Apa aku jahat?" Begitu tanyanya.
"Ini satu-satunya hal yang bagus dari wajahku. Aku tak punya apa-apa lagi. Tapi dia punya semua hal yang bagus di wajahnya itu." Ia bercerita dan bersedih bersamaan.
Paman Bunta tak pernah memihak. Tapi ia berkata demikian. Membuatku berpikir untuk tidak menyimpan dendam pada seorang berwajah bagus. Juga membuatku tersadar, kalau seorang berwajah buruk cuma mensia-siakan waktunya untuk berpikir demikian. Karena menurutku, yang dipikirkannya tidak demikian.
Comments
Post a Comment